Monday, November 24, 2008

Teknik Menulis Cepat

Penulis pemula biasanya bengong cukup lama karena tidak tahu harus menulis apa. Hal ini terjadi karena dia sedang mengharapkan ilham lewat di kepalanya. Pada zaman yang serba cepat ini, metode seperti ini akan membuat kita ketinggalan zaman. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat mendorong orang untuk menulis secara cepat pula. Jika tidak, maka tema tulisan yang kita usung menjadi basi dalam hitungan hari, bahkan dalam hitungan hitungan jam. Jika saat ini Anda masih menulis tentang Obama, maka tulisan Anda tidak akan diminati karena momentumnya sudah lewat.

Untuk itu, kita perlu menguasai teknik penulisan cepat. Metode ini lebih mengandalkan ingatan (memori) kita sebagai bahan tulisan. Jika kita masih harus mencari bahan-bahan penulisan lagi, maka proses penulisan kita menjadi ters

Berikut contohnya:

· Bunga

· Tukang Kebun

· Sederhana

· Anak banyak

· Nakal

· Polisiendat sehingga tidak dapat dikatakan penulisan cepat lagi.

a. Kode Kata

Salah satu kunci untuk membuka peti ingatan kita adalah dengan kode kata. Cara yang dipakai adalah dengan memilih kata kunci dari tema cerita atau premise yang sudah ditentukan. Kata ini dipakai sebagai pijakan awal yang akan menuntun kita untuk menemukan satu tema cerita yang spesifik. Setiap kata akan memicu Anda untuk memikirkan beberapa pengalaman yang Anda memiliki. Ketika Anda mengingat kembali satu pengalaman, hal itu akan mendorong Anda untuk menghubungkannya dengan pengalaman lain yang mungkin terlupakan.

· Kegaduhan

Perhatikan daftar di atas dimulai dari kata yang netral “bunga”. Kata tersebut berhubungan dengan “tukang kebun.” Demikian seterusnya, hingga akhirnya kita menemukan bahan cerita. Dari serangkaian kata-kata ini didapatlah bahan cerita tentang kehidupan tukang kebun yang sederhana, punya anak banyak tapi nakal-nakal sehingga terpaksa berurusan dengan polisi.

Anda bisa memulai metode ini dengan satu kata kunci dari tema tulisan hendak Anda buat. Misalnya, ketaatan, kerendahan hati, ketegaran, kasih, sukacita dll.

b. Curah Gagasan (Brainstorming)

Metode ini merupakan pengembangan dari metode kode kata. Berawal dari sebuah kata, kita menuliskan semua ide yang berkaitan dengan kata tersebut. Hal ini dapat diibaratkan seperti mencurahkan air di dalam gelas ke dalam baskom. Seluruh isi gelas dituangkan semuanya. Tidak ada yang dipilih-pilih. Demikian juga dalam menuliskan ide, tuliskanlah apa saja yang terlintas di otak Anda, tanpa menyeleksinya. Anda tidak perlu memusingkan urut-urutannya, alur logika atau ejaan tulisan.

Contoh:

Ikan

Rasul Petrus menjala ikan

Yesus ikut makan ikan

Ikan bakar bebas kolesterol

Memancing itu asyik

Menjala hasilnya lebih banyak

Yunus pernah ditelan oleh ikan besar

Hati-hati tertusuk duri ikan

Ketika semua ide sudah dituangkan, selanjutnya bacalah daftar ide Anda. Apakah Anda dapat menarik sebuah benang merah di antara daftar itu? Apakah ada ide yang perlu dibuang? Apakah ada kaitan diantara ide tersebut? Setelah membaca kembali daftar ide di atas, saya mendapat ide membuat cerita tentang petualangan dua ekor ikan pada zaman Yesus. Salah satu ikan tersebut tersangkut dalam jaring yang ditebarkan Petrus.

c. Menulis Bebas

Metode ini hampir mirip dengan melamun. Caranya diawali dengan suatu kata tertentu, Anda menulis secara bebas. Tidak harus berkaitan dengan kata kunci tertentu (inilah perbedaan dengan curah gagasan). Tujuan utamanya adalah menulis kalimat sebanyak-banyaknya dalam waktu tertentu (5-10 menit) tanpa berhenti. Anda tidak perlu merisaukan arah tulisan tersebut dan ketepatan ejaan. Tulis saja dengan bebas.

Ada dua teknik yang dapat digunakan. Pertama, menggunakan kode kata sebagai panduannya. Kedua, menulis bebas secara total. Anda menulis seperti mengikuti air yang mengalir. Anda tidak tahu dan tidak meriasukan kemana tujuan akhir dari aliran itu. Yang penting Anda menuangkan apa saja yang terekam di benak Anda.

Contoh:

Hmmm….cerita apa yang bisa kubuat? Ah aku belum punya ide sama sekali. Ide, ide, ide…mengapa ketika dibutuhkan justru tidak datang. Tapi ketika sedang tidak butuh, engkau datang tiba-tiba tanpa memberitahu dulu. Datangmu seperti pencuri. Tidak tahu kapan engkau datang. Engkau datang tanpa mengetuk, dan pergi tanpa permisi. Eh, ya…Tuhan Yesus ‘kan pernah juga memakai perumpamaan ini untuk menggambarkan waktu kedatangan-Nya yang kedua. Kita tidak akan pernah tahu, kapan Dia akan datang lagi sebagai Hakim Agung. Tapi di situlah asyiknya. Kita seperti bermain tebak-tebakan. Apakah hari ini Dia akan datang…. tidak….. datang… tidak… datang… tidak… datang… tidak. Apakah itu seperti menebak seperti ketika menghitung suara tokek? Enggak juga sih. Yesus sudah memberi tanda-tanda. Kita tinggal membaca tanda-tanda zaman saja, maka kita tahu kapan Dia akan datang. Yang dibutuhkan adalah soal kepekaan. Kita harus peka dalam membaca zaman. Ngomong-ngomong soal kepekaan. Dalam bahasa Inggris disebut sensibilitas. Akar katanya adalah sense. Menurut kamus berarti: pikiran, perasaan, kebijaksanaan dan indera. Itu artinya untuk mengasah kepekaan berarti kita melatih menggunakan indera, otak, hati dan roh.

Perhatikan contoh di atas. Berawal dari ketiadaan ide, tulisan tersebut bergerak bebas tanpa fokus yang jelas, namun dengan cara itu justru memunculkan gagasan-gagasan baru. Ini seperti melamun yang ngelantur kemana-mana.

Jika dirasa sudah cukup, maka baca kembali hasil tulisan bebas tersebut. Temukanlah ide-ide menarik yang dapat dikembangkan. Dari tulisan di atas, kita dapat mengembangkan cerita tentang menyambut kedatangan Yesus.

d. Pemetaan Pikiran

Pemetaan pikiran (mind mapping) adalah sistem perekaman pikiran supaya kita biasa menggunakan otak kiri maupun otak kanan dengan baik. Seluruh bagian otak digunakan untuk berpikir. Untuk melakukan ini, kita dapat menggunakan kata-kata kunci, lambang, dan warna. Mind mapping memungkinkan kita membangkitkan dan mengatur pikiran-pikiran pada waktu yang sama.

· Catat poin utama, pikiran atau ide utama.

· Lingkari gagasan utama, kemudian gunakanlah cabang-cabang yang saling menyambung untuk menunjukkan ide-ide yang berhubungan.

· Dalam membuat catatan, petakan hal-hal yang sedang Anda pikirkan. Anda akan membangkitkan lebih banyak ide, melihat hubungan di antara kata-kata kunci, dan lebih bersenang-senang!

Selesai melakukan pemetaan, lihat peta tersebut secara umum. Temukanlah apakah Anda dapat menarik jalinan cerita dari peta otak tersebut.

MENULIS BUKU JURNAL

Seorang penulis wajib memiliki dan selalu membawa buku kecil (atau PDA) kemana pun dia pergi. Inilah yang disebut buku jurnal. Buku ini berbeda dengan buku harian (diary) yang mencatat segala kegiatan fisik setiap hari. Buku ini merupakan catatan dari aktivitas otak kita. Buku ini mencatat semua hal yang terlintas di otak Anda, entah itu ide, kegelisahan, pergumulan, pengalaman atau kekesalan Anda.

Ilham atau ide itu bisa datang kapan saja, tanpa diundang dan tak bisa ditolak. Ketika ide itu datang, kita harus segera mencatatnya. Jangan pernah mempercayai ingatan Anda, karena ingatan kita ini sangat terbatas. Jika kita lalai mencatat dan tidak ingat lagi ide tersebut, maka kita telah melepas angsa yang bertelor emas.

Dengan selalu mengantongi buku jurnal, ada dua keuntungan yang Anda dapatkan:

Pertama, melatih keberanian Anda untuk menulis. Buku jurnal memberikan kebebasan menulis sebebas-bebasnya karena hanya Anda yang akan membacanya. Jadi tidak perlu takut dalam menuangkannya dalam bentuk tulisan. Ada pepatah:practice make perfect (kita bisa karena terbiasa).

Kedua, menyediakan sumber tulisan. Setiap bulan saya harus menulis 11 renungan untuk renungan Blessing. Saya selalu menggunakan jurnal yang saya tulis di blog saya sebagai bahan penulisan. Karena sudah terbiasa menulis jurnal, hal iru memudahkan saya untuk mencari bahan tulisan dengan cepat. Meski efeknya tidak langsung, tetapi menulis jurnal dapat mendukung kita ketika ingin menulis dengan cepat.

Maaf terpotong, baca sambungannya... silakan klik ini.

Wednesday, October 29, 2008

Aman di Mana-Mana Tatkala Tiada yang Aman


Oleh Johannes Darsum, literature minister

Datanglah kerajaan-Mu, kehendak-Mu jadilah. Kerajaan Allah sudah datang dan sedang datang. Bagaimanakah bentuk kehadiran kerajaan Allah?

Kerajaan Allah adalah Kehidupan

Kerajaan Allah hadir dalam bentuk “kehidupan”. Melalui kesaksian kitab-kitab Injil, kita mendapati bahwa hati Yesus senantiasa terarah kepada kehidupan. Kerajaan Allah sudah datang dan sedang datang. Kerajaan Allah sudah datang dalam teladan kehidupan-Nya. Akulah kehidupan, kata-Nya (Yohanes 14:6). Kerajaan Allah juga sedang datang ke dalam kehidupan setiap orang yang mau menyambutnya.

Kerajaan Allah hadir dalam bentuk kehidupan, bukan dalam bentuk agama. Sistem keagamaan, dan pemuka agama justru kadang kala menghalangi kehadiran kerajaan Allah. Bukan kehidupan yang ada di dalam mereka, tetapi kematian (Matius 23:27). Itulah yang hendak direformasi oleh Yesus Kristus.

Ia berulang kali mendobrak sistem keagamaan yang dibangun oleh pemuka agama dan kalangan elite Yahudi. Puncaknya adalah kemarahan-Nya terhadap praktik “sertifikasi” halal yang menguntungkan kelompok mereka sendiri (Matius 21:12-13).

Pembelaan-Nya kepada kehidupan tergambar jelas dalam kejadian di ladang gandum (Markus 2:23-28), di sinagoge (Markus 3:1-6), di rumah pemimpin orang Farisi (Lukas14:1-6), dalam penggerebekan perempuan yang berzinah (Yohanes 8:1-11), dan banyak kejadian lainnya.

Kehidupan adalah Keamanan

Tidak ada tempat yang aman. Tidak di Indonesia. Tidak di Amerika. Kejadian mutakhir membuktikannya. Everything is risky, kata pakar Risk Management Larry Laudan. Segala sesuatu beresiko, tidak ada yang aman. Namun, bagi orang yang memiliki kehidupan, resiko sebesar apapun tidak lagi menakutinya. Ya, karena Anda kini lebih hidup, sungguh hidup!

Tidak ada yang dapat menghalangi Anda. Seperti Yesus yang tidak mau dihalangi oleh siapa dan apapun demi kehidupan. Begitulah teladan kehidupan-Nya, hidup dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10). Di dalam “kehidupan” yang seperti itu, di dalam kerajaan Allah, di dalam Dia yang memberi kekuatan, segala sesuatu dapat Anda tanggung! (Filipi 4:13).

Tatkala Anda beralih dari sistem keagamaan kepada kehidupan, Anda akan mempunyai paradigma baru terhadap tutorial kehidupan yang Allah berikan, yaitu segenap sabda-Nya. Anda akan merasa beruntung memilikinya. Anda akan gemar mempelajarinya. Anda akan antusias menerapkannya. Anda hidup dan bergerak di dalam sabda-Nya.

Tidak ada tempat yang aman. Namun, tempat yang aman ada di mana-mana. Ya, tempat di mana pun bisa menjadi aman, yaitu tatkala kerajaan Allah hadir di sana. Jika kerajaan Allah sudah hadir dalam kehidupan Anda, niscaya kehidupan Anda pun menghadirkan kerajaan Allah di manapun Anda berada dan ke manapun Anda pergi. Anda sudah aman. Amankan pula lingkungan Anda.

Maaf terpotong, baca sambungannya... silakan klik ini.

Monday, October 27, 2008

Mengoperasikan Iman Kristiani


Masih efektifkah iman kristiani kita dalam realita baru kehidupan ini? Bagaimana agar aplikatif dalam kehidupan nyata?

Bagaimana mengejawantahkan ora et labora (serta akal-penalar et budi-pekerti) untuk mencapai kesuksesan dan melampauinya dengan tujuan-tujuan yang lebih tinggi dalam Tuhan?

Masih mungkinkah damai sejahtera dan sukacita berdasarkan kebenaran, dan senantiasa beryukur, dalam menghadapi pergumulan di dunia yang makin mengglobal ini?

Bagaimana sepatutnya kita menyikapi fenomena The Secret dan ajaran New AgeMovement?

"My though speaks softly in my ears, be clean in body and spirit even if you have nowhere to lay your head." [Kahlil Gibran]

Simak uraiannya dalam buku terbaru saya,
"The Secret & Purpose Driven Life: Menggapai Manusia Baru, Pikiran Baru, HidupBaru".

Buku yang pas dibaca dalam masa awal tahun baru ini.

Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga. Matius 5:15-16

Maaf terpotong, baca sambungannya... silakan klik ini.

Kritisi Ajarannya, Reguk Dahsyatnya!


Daftar Isi:
-Pengantar
1. Quantum Ora-et-Labora
2. The Law of Attraction & Positive Thinking
3. Manusia Baru & Rahasia Keunggulannya
4. Pikiran Baru & Transformasi Akal-Budi
5. Minta, Percaya, Terima
6. Hidup Baru & Penuh Makna
7. The Law of Abraham & Abundant Blessing
8. Gratitude & Positive Attitude
-Penutup: Kaidah Emas Versi Positif Hanya Ada di Alkitab

Ukuran: 13,5 x 17 cm2
Tebal: 136 hlm
Disertai Panduan Mengenali Impian Anda Seutuhnya Berdasarkan Quantum Ora-et-labora
Penulis adalah seorang literature minister, yang aktif dalam komunitas penulis & jurnalis Krisiani (Penjunan) dan lama bekerja fulltime di sebuah gereja di Jakarta. Sekarang melayani di Abbalove Oikos Community.

Maaf terpotong, baca sambungannya... silakan klik ini.

Friday, July 25, 2008

Belajar dari Ana dan Diran

oleh Martha Pratana

Ini cerita tentang Ana dan Diran. Ceritanya asli (memang terjadi), tetapi namanya direkayasa.

Ana pintar memasak masakan Indonesia. Kalau memasak rawon, soto, balado dan lain-lain memang oke sekali. Ana juga menyadari bahwa dirinya itu pandai memasak. Sayangnya, Ana "over pe-de", dia anggap kalau sudah pandai memasak masakan Indonesia itu berarti dia pasti bisa memasak semua jenis masakan secara otomatis.

Pada suatu ketika, dia ditempatkan pada suatu situasi di mana dia harus memasak masakan Cina. Dia harus memasak fuyunghai. Tentu, dia tahu yang namanya fuyunghai itu modelnya bagaimana. Dia pun sudah pernah mencicipi bagaimana rasa fuyunghai itu. Tetapi, memasak fuyunghai? Dia belum pernah.

Tetapi Ana tak bisa mengelak. Dia harus memasak fuyunghai. Dan hasilnya? Ana gagal. Ana tak paham bagaimana membuat saus fuyunghai.

Tetapi Ana masih merasa dia serba bisa dalam hal masak memasak.

Suatu kali, Ana berkenalan dengan seorang pemuda. Pada pandangan pertama, kelihatannya si pemuda menyukai Ana. Demikian pula Ana, yang memang sudah lama mencari-cari calon suami, langsung jatuh hati pada pemuda ini.

Pertemuan pertama berlanjut pada pertemuan kedua dan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Mereka mulai saling menjajaki. Pada pertemuan yang kesekian, Ana mulai berani menyombongkan diri. Pikirnya, sekalian promosi, dia bercerita pada pemuda itu, yang bernama Diran, bahwa dia pandai masak. Ana mengatakan bahwa majikannya cocok dengan masakannya (Ana bekerja sebagai seorang kepala rumah tangga di sebuah keluarga). Ana pun bertanya, apa pekerjaan Diran. Diran menjawab bahwa dia bekerja di sebuah restoran. Ana senang. Katanya, tipe pekerjaan mereka memiliki benang merah. yaitu sama-sama bersentuhan dengan makanan.

Pada pertemuan selanjutnya, Ana bercerita bahwa sebagai kepala rumah tangga, Ana tidak hanya memasak, tapi juga melakukan pekerjaan-pekerjaan lainnya, seperti mencuci baju, membersihkan perabot dan sebagainya. Pokoknya pekerjaan Ana sangat kompleks. Dia bekerja serabutan dan Ana memberikan kesan bahwa dia orang yang sangat terampil dan jika jadi isteri pasti dia jadi isteri yang mumpuni.

Secara iseng, Ana bertanya pada Diran, apakah kalau kerja di restoran Diran harus pakai seragam? Karena sejauh yang Ana tahu, pada umumnya karyawan restoran selalu memakai seragam kalau bekerja. Dan Diran pun menjawab, "Iya dong...mesti pakai seragam. Aku pakai seragam koki..."

Ooops! Hati Ana berdetak keras! "Mati aku!" pikirnya. Jadi Diran adalah koki? Berarti Diran juga pintar masak, dan bukan sekadar karyawan restoran. Ah, masak sih? Ana hampir-hampir tak percaya bahwa ada juga orang yang pintar memasak seperti dia. Ana menjadi penasaran, dia melanjutkan bertanya, di manakah kiranya Diran menjadi koki. Diran mengatakan bahwa dia menjadi koki di sebuah restoran Cina.

"Jadi, kamu bisa memasak masakan Cina?" Ana bertanya.
"Bisa dong...", Diran menjawab.
"Bisa masak fuyunghai?" Ana penasaran.
"BIsa dong...aku biasanya juga masak koloke, bakmi goreng, sapo tahu...dan lain-lain..."
"Wah! Kamu dari mana bisa masak semuanya itu?" Ana masih juga kurang terima.
"Ya...aku sekolah dong..."
"Oh, memangnya ada ya sekolah masak?"
"Ada dong. Aku kan ambil jurusan tata boga..."

Ana terkesiap. Ternyata ada juga orang yang lebih bisa dari dia! Ternyata ada juga sekolah masak; semula dia kira orang bisa masak hanya karena belajar dari pengalaman atau dari melihat orang lain memasak. Ternyata dunia ini luas juga dan isinya macam-macam. Ya, dia belum tahu pepatah Cina ini: “Di atas langit ada langit”.

(CERITA INI SAYA TULIS DAN DAPAT DITEMUKAN JUGA DI www.gkpb.net)

Maaf terpotong, baca sambungannya... silakan klik ini.

Monday, July 14, 2008

Teknik Penulisan Feature

Oleh Purnawan Kristanto

Para jurnalis yang sudah lama berkecimpung di dunia jurnalistik tahu bahwa kadangkala dalam sebuah peristiwa tidak hanya berupa satu buah kejadian saja. Bisa jadi dalam sebuah peristiwa terdiri dari banyak fragmen-fragmen kejadian yang layak diberitakan. Di dalam teknik penulisan berita langsung (straight news), jurnalis akan merangkum semua fakta-fakta itu ke dalam sebuah berita lempang dan singkat. Ini biasanya terjadi pada media-media yang menuntut aktualitas yang tinggi seperti koran, radio, TV dan internet.

Namun media yang tidak begitu diikat oleh waktu seperti tabloid mingguan atau majalah bulanan, jika mereka ikut-ikutan menulis seperti ini, tentu medianya tidak akan laku karena sudah basi. Karena itulah mereka harus menggali berita dari sudut pandang yang unik dengan tema yang awet alias tak lekang oleh waktu.

Sebagai contoh, dalam sebuah bencana di kota Y, terjadi kejadian sebagai berikut:
• Sambaran petir dan angin badai meruntuhkan atap gedung berlantai lima
• Runtuhan atap itu menimpa mobil yang sedang melintas
• Pengemudinya, seorang remaja putri, menginggal dunia
• Dua penumpang terluka
Aturan dasar dalam menulis berita lempang adalah menempatkan hal-hal yang paling penting di awal berita. Aturan ini tidak menjadi masalah sepanjang kisah ini hanya mempunyai satu peristiwa yang ditekankan. Namun ketika ada banyak peristiwa yang penting juga untuk diberitakan, maka tugas jurnalis menjadi semakin rumit. Untuk mengatasi hal ini, ada dua pilihan yang bisa dilakukan:

1. Merangkum semua fakta –dengan urutan penting ke tidak penting—pada paragraf pertama, atau
2. Memberi tekanan pada peristiwa tertentu yang paling penting di awal paragraf.

Jika peristiwa di atas ditulis dalam sebuah berita lempang, hasilnya sebagai berikut:
“Atap sebuah gedung berlantai lima, runtuh setelah tersambar petir dan tersapu angin badai tadi malam. Runtuhan atap itu menimpa mobil yang sedang melintas, sehingga menewaskan Anastasia Suminem (18 tahun) yang mengemudi mobil itu. Sedangkan dua penumpang lainnya menderita luka-luka serius.”

Berita seperti ini biasanya dimuat di koran harian. Namun ketika redaktur tabloid wanita akan mengangkat peristiwa ini, ia harus mencari sudut pandang lain. Ia memberi tugas reporternya untuk mengangkat kisah korban yang meninggal. Inilah hasilnya:

“Seorang remaja putri meninggal dunia (Jumat, 18/4) ketika mobil yang dikendarainya tertimpa atap gedung berlantai lima yang runtuh setelah tersambar petir. Selain itu, dua penumpang yang duduk di belakang menderita luka-luka serius. Saat itu mobil mereka sedang terjebak di kemacetan lalu lintas.

Anastasia Suminem (18 tahun) adalah seorang sekretaris PT. Sukar Maju. Ia sedang melintas jl. Sudirman ketika puluhan kubik bata, kayu, besi dan genting itu menghempas mobilnya. Timbunan material itu meringsekkan badan mobil bagian depan sehingga menewaskan Anastasia seketika itu juga.

Anastasia adalah seorang karyawati yang menuru penuturan Kristina, rekan kerjanya adalah karyawan periang yang tidak sungkan-sungkan memberi bantuan pada orang lain. Sifat suka menolongnya ini tercermin ketika ia menawarkan untuk mengantarkan pulang Yosafat Tukiyo (23 th) dan Maria Magdalena Pariyem (20 th). Padahal arah rumah Anastasia berlawanan dengan kedua rekannya ini.. …. “ kisah selanjutnya menceritakan tentang Anastasia.

Sementara itu, editor majalah bulanan memandangnya dari sisi lain. Ia tertarik pada petir yang menyambar pada saat jam-jam sibuk. Pada saat itu, jalanan macet karena banyak orang pulang kantor pada waktu yang bersamaan. Untuk itu, ia menugaskan anak buahnya untuk mewawancarai pakar Cuaca dan mencari informasi seputar perilaku petir.

Nah, begitulah. Untuk peristiwa yang sama, kita bisa menuliskan dalam dua atau lebih berita yang berbeda. Inilah yang disebut pemilihan sudut berita atau news angle. Pemilihan news angle sebuah media ini biasanya dipengaruhi oleh kebijaksanaan redaksional dan karakteristik pembacanya. Masih ingat kecelakaan tragis Lady Di? Untuk peristiwa yang sama, sebuah tabloid gosip mengangkat sisi perselingkuhan, majalah bulanan mengupas ulah para Paparazi ,sedangkan majalah berita berusaha menelusuri penyebab kecelakaan. Berbeda-beda ‘kan?

Ketika sebuah media sudah mendapat point of interest dari sebuah kisah, mereka akan memusatkan perhatian pada satu hal itu saja. Mereka mengumpulkan dan menggali fakta di balik berita lempang untuk disusun menjadi sebuah berita kisah atau news feature. Karena relatif tidak terikat oleh waktu, penulis berita kisah punya kesempatan untuk menyusun kalimat yang menghidupkan imajinasi pembaca. Tulisan ini menarik perhatian pembaca hingg masuk ke dalam cerita itu dengan membantu mengidentifikasi diri dalam tokoh utama. Feature dapat menyentuh emosi pembaca sehingga mereka penasaran, skpetis, kagum, heran, tertawa, menangis, dongkol, senang dsb.

Menurut Wiliamson, “Feature adalah tulisan kreatif yang terutama dirancang untuk memberi informasi sambil menghibur tentang suatu kejadian situasi atau aspek kehidupan seseorang”.

Masih kata Wiliamson, feature menekankan unsur kreativitas (dalam penciptaan), informatif (isinya) dan menghibur (gaya penulisannya) dan boleh subyektif (penuturannya). Ketiga syarat utama ini mutlak ada dalam feature, sedangkan unsur subyektifitas tidak mutlak. Kalau ada juga boleh, terutama untuk feature sisi manuniawi (human interest).

Berdasarkan Fakta

Bentuk penulisan cenderung bergaya feature: "mengisahkan sebuah cerita." Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah. Ia melukis gambar dengan kata-kata; ia menghidupkan imajinasi pembaca.
Penulis feature tentu membutuhkan imajinasi yang baik untuk menjahit kata-kata dan rangkaian kata menjadi cerita yang menarik. Tapi, seperti juga bentuk-bentuk jurnalisme lainnya, imajinasi penulis tidak boleh mewarnai fakta-fakta dalam ceritanya.

Pendeknya, cerita khayalan tidak boleh ada dalam penulisan feature. Ada sebuah kisah tragis seorang wartawati reporter harian Washington Post, Janet Cooke, yang pada tahun tersebut memenangi Hadiah Pulitzer. Hadiah prestisius ini menjadi idaman jurnalis di "Negeri Paman Sam" itu. Ia tergoda memasukkan unsur fiksi dalam feature. Akibat kebohongan ini, karirnya pupus. Kisahnya begini:

Janet berhasil menulis sebuah feature yang sangat menarik, mengharukan, dan tentu saja bagus. Feature yang diberinya judul "Jimmy's World" itu mengalahkan calon-calon lain dan memenangi Pulitzer untuk jenis timeless feature. Washington Post tentu saja bangga dengan karya reporternya yang berusia 26 tahun itu. Sayangnya, kebanggaan yang belakangan menjadi skandal itu telah mencoreng wajah harian terkemuka di Amerika tersebut.

Janet ternyata "mengarang" feature yang indah itu. Tulisannya tidak berangkat dari fakta. Jimmy, tokoh yang digambarkannya itu, ternyata tokoh imajinasi yang hanya hidup dalam benaknya. Artinya, tulisannya bukan karya jurnalistik, tetapi fiksi. Karena perbuatannya itu, Hadiah Pulitzer yang diterimanya dicabut dan ia dipaksa berhenti dari Washington Post.
Mengapa kasus memalukan ini terbongkar? Dalam riwayat hidupnya yang diterbitkan di surat kabar setelah ia memenangi hadiah itu, ia menyebutkan nama dua universitas tempat ia dulu memperoleh gelar sarjana. Tak lama setelah biografi singkat Janet Cooke muncul di berbagai media, kedua universitas yang disebutnya menelepon Washington Post dan menyampaikan bantahan. Janet tidak pernah kuliah di sana.

Kecurigaan bermula di sini. Para editor atasan Janet segera menginterogasi reporter itu beberapa jam. Bagaikan mendengar suara guntur di siang hari yang sangat terik, mereka sangat terperanjat dengan pengakuan Janet bahwa karya tulisnya adalah sebuah pabrikasi. Bagaimana mungkin mereka bisa percaya? Kisah anak berusia delapan tahun yang kecanduan heroin dan menggelandang di jalan-jalan ghetto itu dideskripsikannya dengan sangat emosional, penuh kutipan yang sangat meyakinkan. Dunia yang dipaparkannya adalah dunia yang sebagian besar orang tidak pernah memasukinya, tidak juga Janet Cooke sendiri. (GAMMA Digital News Nomor: 26-3 - 21-08-2001)

Seorang jurnalis profesional tidak akan menipu pembacanya, walau sedikit, karena ia sadar terhadap etika dan bahaya yang bakal mengancam.

Etika menyebutkan bahwa opini dan fiksi tidak boleh ada, kecuali pada bagian tertentu surat kabar. Tajuk rencana, tentu saja, merupakan tempat mengutarakan pendapat. Dan edisi Minggu surat kabar diterbitkan untuk menampung fiksi (misalnya cerita pendek).

Feature tidak boleh berupa fiksi, dan setiap "pewarnaan" fakta-fakta tidak boleh menipu pembaca. Bila penipuan seperti itu terungkap, kepercayaan orang pada kita akan hancur.

Sumber-Sumber Feature

Ada seorang anggota jemaat di gereja sekitar Malioboro. Namanya Mohammad Mustofa. Sehari-harinya dia adalah pedagang kaki lima di bilangan Malioboro. Namun setiap kali ada acara Pemahaman Alkitab, Bapak ini selalu menutup dagangannya hari itu. Aspek ini bisa menjadi cantelan penulisan feature bagaimana dia mengatur waktu antara kegiatan gereja dengan mencari nafkah.
Di sekitar kita ada banyak bahan-bahan yang dapat diracik menjadi sebuah berita kisah. Kuncinya adalah kesediaan kita untuk menggali lebih dalam dari peristiwa-peristiwa di sekitar kita. Namun sebagai petunjuk saja, kita bisa menggali dari peristiwa berikut ini:

• Peristiwa luar biasa : ganjil, aneh, seperti kebetulan, kepribadian yang unik.
• Peristiwa biasa : orang biasa, tempat biasa dan benda biasa tetapi orang selalu ingin mengetahui hal-hal itu.
Sebagai contoh, setiap kali melintasi perempatan Gramedia, kita selalu menjumpai anak-anak jalanan. Setiap orang yang melintas ingin tahu berapa penghasilan mereka sehari? Apakah ada yang mengkoordinir? bagaimana makan mereka? Apakah mereka tidak pernah sakit karena polusi? Apakah mereka masih punya keluarga?
• Peristiwa Dramatis: pemenang undian, Orang Kaya Baru, pengelaman heroik, selamat dari kecelakaan dsb.
• Panduan bagi pembaca: Nasehat dan kiat-kiat untuk pembaca, misalnya cara menghindari perampokan, cara memilih helm “standard” yang sudah memenuhi standard, resep, kerajinan tangan dll.
• Informasi: Statitistik, pelajaran, gambar, sejarah dll

Cara Menulis Feature

Sebagian besar penulis feature tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan itu.
Struktur tulisan feature disusun seperti kerucut terbalik yang terdiri dari lead, jembatan di antara lead dan tubuh, tubuh tulisan dan penutup. Bagian atasnya berupa lapisan lead dan jembatan yang sama pentingya, dan bagian tengahnya berupa tubuh tulisan yang makin ke bawah makin kurang ke-penting-annya. Bagian bawahnya berupa alenia penutup yang bulat.



Penutup
Kunci penulisan feature yang baik terletak pada paragraf pertama, yaitu lead. Mencoba menangkap minat pembaca tanpa lead yang baik sama dengan mengail ikan tanpa umpan. (jenis-jenis lead bisa dilihat pada makalah Penulisan Berita)
Lead feature berisi hal yang paling penting untuk mengarahkan perhatian pembaca pada suatu hal yang akan dijadikan sudut pandang dimulainya penulisan.
Jembatan bertugas sebagai perantara antara lead dan tubuh yang dengan lead masih terkait, tetapi ke tubuh tulisan sudah mulai masuk. Ia semata-mata melukiskan identitas dan situasi dari hal yang akan dituturkan nanti.

Tubuh feature berisi situsi dan proses disertai penjelasan mendalam tentang mengapa dan bagaimana. Pada human interest feature, situasi yang dituturkannya disertai pendapat atau pandangan yang subyektif dari penulisnya mengenai situasi yang diutarakan. Tetapi pada bentuk feature ilmiah populer situasi dan proses yang ditutrkan tidak disertai pendapat subyektif, melainkan tetap dipertahankan keobyektifitasan pandangannya.

Penutup feature berupa alenia berisi pesan yang mengesankan.
Suatu feature memerlukan -- bahkan mungkin harus -- ending karena dua sebab:
1. Menghadapi feature hampir tak ada alasan untuk terburu-buru dari segi proses redaksionalnya. Editor tidak lagi harus asal memotong dari bawah. Ia punya waktu cukup untuk membaca naskah secara cermat dan meringkasnya sesuai dengan ruangan yang tersedia.
Bahkan feature yang dibatasi deadline diperbaiki dengan sangat hati-hati oleh editor, karena ia sadar bahwa kebanyakan feature tak bisa asal dipotong dari bawah. Feature mempunyai penutup (ending) yang ikut menjadikan tulisan itu menarik.
2. Ending bukan muncul tiba-tiba, tapi lazimnya merupakan hasil proses penuturan di atasnya yang mengalir. Ingat bahwa seorang penulis feature pada prinsipnya adalah tukang cerita. Ia dengan hati-hati mengatur kata-katanya secara efektif untuk mengkomunikasikan ceritanya. Umumnya, sebuah cerita mendorong untuk terciptanya suatu "penyelesaian" atau klimaks. Penutup tidak sekadar layak, tapi mutlak perlu bagi banyak feature. Karena itu memotong bagian akhir sebuah feature, akan membuat tulisan tersebut terasa belum selesai.
Beberapa jenis penutup:
• Penutup ringkasan. Penutup ini bersifat ikhtisar, hanya mengikat ujung-ujung bagian cerita yang lepas-lepas dan menunjuk kembali ke lead.
• Penyengat. Penutup yang mengagetkan bisa membuat pembaca seolah-olah terlonjak. Penulis hanya menggunakan tubuh cerita untuk menyiapkan pembaca pada kesimpulan yang tidak terduga-duga. Penutup seperti ini mirip dengan kecenderungan film modern yang menutup cerita dengan mengalahkan orang "yang baik-baik" oleh "orang jahat".
• Klimaks. Penutup ini sering ditemukan pada cerita yang ditulis secara kronologis. Ini seperti sastra tradisional. Hanya saja dalam feature, penulis berhenti bila penyelesaian cerita sudah jelas, dan tidak menambah bagian setelah klimaks seperti cerita tradisional.
• Tak ada penyelesaian. Penulis dengan sengaja mengakhiri cerita dengan menekankan pada sebuah pertanyaan pokok yang tidak terjawab. Selesai membaca, pembaca tetap tidak jelas apakah tokoh cerita menang atau kalah. Ia menyelesaikan cerita sebelum tercapai klimaks, karena penyelesaiannya memang belum diketahui, atau karena penulisnya sengaja ingin membuat pembaca tergantung-gantung.

Seorang penulis harus dengan hati-hati dalam menilai ending-nya, menimbang~nimbangnya apakah penutup itu merupakan akhir yang logis bagi cerita itu. Bila merasakan bahwa ending-nya lemah atau tidak wajar, ia cukup melihat beberapa paragrap sebelumnya, untuk mendapat penutup yang sempurna dan masuk akal.

Menulis penutup feature sebenarnya termasuk gampang. Kembalilah kepada peranan "tukang cerita" dan biarkanlah cerita Anda mengakhiri dirinya sendiri, secara wajar.

Pustaka

Slamet Soeseno, “Teknik Penulisan Ilmiah Populer; Kiat Menulis Non Fiksi Untuk Majalah, Gramedia Pustaka Utama
Williamson, “Feature Writing for Newspeper, Hastings House, New York
Julian Harris dkk, The Complete Reporter”, Macmillan Publishing, New York
Makalah Satrio Arismunandar

Maaf terpotong, baca sambungannya... silakan klik ini.

Monday, May 19, 2008

Sekolah Kepenulisan "Gloria" Diselenggarakan oleh penerbit Gloria dan Komunitas "Penjunan"

Sekolah Kepenulisan "Gloria" Diselenggarakan oleh penerbit Gloria dan Komunitas "Penjunan"

A. Latar Belakang:
Selama dekade terakhir, ada kegairahan baru di bidang penulisan, dan masih kita rasakan hingga saat ini. Iklim kebebasan pada masa reformasi, tumbuhnya penerbitan baru dan perkembangan internet merupakan faktor pendukung timbulnya fenomena ini.
Jumlah penerbit yang bertambah, memunculkan kebutuhan ketersediaan naskah-naskah buku yang baik. Gayung pun bersambut. Banyak naskah buku yang ditawarkan kepada penerbit. Sayangnya, dari sekian banyak naskah yang tersedia, hanya sedikit yang memenuhi syarat. Kelemahan utama naskah-naskah tersebut adalah cara penulisan yang tidak memenuhi standar dan tema yang dibahas tidak sesuai dengan kebutuhan pasar.
Karena prihatin dengan hal tersebut maka penerbit Gloria bekerja sama dengan Komunitas Penjunan (Penulis dan Jurnalis Nasrani) rindu untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan bagi jemaat Tuhan agar mampu menjadi penulis yang andal. Diharapkan, setelah mengikuti sekolah penulisan ini, peserta mampu menemukan tema yang menarik, kemudian mengemasnya menjadi sebuah tulisan yang layak untuk diterbitkan.

B. Tujuan:
Memotivasi peserta sekolah untuk menuangkan pemikiran, pengalaman, isi hati mereka dalam bentuk tulisan. Tulisan yang mereka hasilkan adalah tulisan yang memenuhi syarat secara komersial dan layak diterbitkan: dalam bentuk artikel lepas atau buku.

C. Sasaran Peserta:
Kegiatan ini akan diikuti oleh sekitar 60 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang kelompok sosial, meliputi:
1. Mahasiswa/pelajar.
2. Aktivis, staf atau pengerja gereja.
3. Kaum profesional.
4. Ibu rumah tangga.
5. Pendeta/Gembala.
6. Guru
D. Materi Pelajaran:
1) Motivasi pelayanan literatur
2) Menemukan ide penulisan
3) Menyusun kerangka tulisan
4) Teknik penulisan (kosa kata sampai tatabahasa)
5) Penulisan Ulang - Penyuntingan
6) Kode etik, tata cara pengiriman naskah, hak dan kewajiban penulis
7) Mengenal dunia penerbitan/trend perbukuan
E. Metode:
1) Ceramah
2) Diskusi/Sharing
3) Penugasan
4) Kunjungan ke penerbit
5) Seminar Penulisan

F. Proses Belajar:
Peserta mula-mula disentuh kesadarannya tentang arti penting pelayanan literatur. Setelah itu, peserta akan dipandu untuk menemukan ide penulisan yang akan dikembangkan selama program ini berlangsung. Selama delapan kali pertemuan, peserta akan mendapatkan pelajaran teknik kepenulisan dari penulis yang sudah berpengalaman. Sementara itu, di luar kelas, peserta diharapkan melanjutkan ide penulisan yang sudah mereka pilih. Peserta juga diberi kesempatan untuk mendapatkan mentoring/bimbingan dari fasilitator sebelum atau sesudah pengajaran di kelas. Dimungkinkan juga mentoring/bimbingan melalui email.

Di akhir program, akan digelar acara Seminar Kepenulisan. Dalam seminar ini, Andrias Harefa akan membagikan pengalaman dan pengetahuan di bidang kepenulisan. Acara ini juga sekaligus untuk menutup program Sekolah Kepenulisan.

G. Pelaksanaan:
Setiap hari Rabu, Juli-Agustus 2008
Pukul 16.00-18.00
Tempat Gloria Graha, Jl. F. M. Noto no. 19 Kotabaru, Yogyakarta

H. Fasilitator dan Pemberi Materi:
1. Ev. Xavier Quentin Pranata
Mantan Pemimpin Redaksi Bahana, pengkhotbah, dan penulis buku. Perintis komunitas "Penjunan" (Penulis dan Jurnalis Nasrani).

2. Purnawan Kristanto
Penulis buku (21 judul), renungan, penerjemah, mantan redaktur majalah Bahana. Moderator milis komunitas "Penjunan" komunitas-penjunan@yahoogroups.com dan kontributor beoscope.com

3. Arie Saptaji
Penulis (buku, artikel dan rennugan), penyunting lepas dan penerjemah.

4. Agustina Wijayani
Penulis dan editor pada penerbit "Gloria" Yogyakarta.

5. Bayu Probo
Editor, copywriter, staf penelitian dan pengembangan Penerbit Buku Rohani ANDI, penulis buku

6. Lusiana Hutabarat
Pernah menjadi editor Penerbit Buku Rohani "Andi" dan wartawan TransTV.

7. Bpk. Istoto dari penerbit Kanisius.

I. Indikator Keberhasilan:
Program ini dianggap berhasil apabila terdapat hal-hal berikut ini:
·Antusiasme partisipan mengikuti program ini (diketahui dari penugasan dan presensi partisipan)
·Partisipan mendapatkan dasar-dasar penulisan yang baik dan mendapatkan manfaat dari program ini (diketahui melalui angket).
·Peserta mampu termotivasi menulis, yang ditunjukkan dengan menulis naskah buku (sangat berhasil), kerangka penulisan buku (berhasil) atau menentukan tema tulisan (kurang berhasil).
·Terbentuknya jejaring penulis-penulis potensial di DIY dan sekitarnya.

J. Syarat untuk Peserta
1. Mengisi Formulir Pendaftaran yang tersedia.
2. Membayar biaya pelatihan sebesar Rp180.000,-
3. Menyerahkan pas foto 3X4 sebanyak 3 lembar.
4. Menyerahkan tulisan dengan tema: "Tentang aku, talentaku dan pengalaman pekerjaan/pelayananku" Panjang tulisan sekitar 1.000 s/d 3.000 kata.
5. Pendaftaran ditutup paling lambat 26 Juni 2008. atau jika jumlah pendaftar sudah memenuhi target.

K. Fasilitas
1. Pembicara yang merupakan praktisi yang sudah berpengalaman di bidang kepenulisan.
2. Bimbingan menulis dari fasilitator
3. Makalah untuk setiap materi
4. Map/Tas eksklusif untuk menyimpan materi pelatihan
5. Sertifikat
6. Praktik dan kunjungan ke penerbitan
7. Ruang kuliah ber-AC.

L. Informasi dan Pendaftaran:
Santi
Penerbit Gloria
Jl. Faridan M. Noto 19
Yogyakarta 55224
Email: penerbitan@glorianet.org
Telp. 0274 56362, 565905
Atau:
Purnawan Kristanto
Email: Purnawank@gmail.com
Tlp. (0272) 327776
Hp. 0812-231237

Maaf terpotong, baca sambungannya... silakan klik ini.

Saturday, May 10, 2008

3 x 7 = 27

Konon di Tiongkok pernah hidup seorang hakim yang sangat dihormati karena tegas dan jujur. Rakyat sangat menghormatinya dan cara penghormatannyapun sambil bertekuk lutut dan bahkan bersujud hingga keningnya mencium lantai, karena mereka sangat segan dan menyanjungnya.

Ia memutuskan setiap perkara dengan adil, tanpa pandang bulu. Suatu hari, dua orang menghadap hakim tersebut. Mereka bertengkar hebat dan nyaris beradu fisik. Keduanya meminta keputusan atas kasus mereka yang sebenarnya sangat sepele.

Keduanya berdebat tentang hitungan 3x7. Yang satu mengatakan hasilnya 21, yang lain bersikukuh mengatakan hasilnya 27. Ternyata sang hakim memvonis hukuman cambuk 10x bagi orang yang menjawab benar. Spontan si terhukum protes.

Sang hakim menjawab, "Kamu bodoh, mau-maunya berdebat dengan orang-orang yang tidak tahu kalau 3x7 adalah 21!"

Kalau ada orang berbeda pendapat dengan kita, katakan pada diri sendiri bahwa dia belum mengerti, lalu bersabarlah. Karena kesabaran artinya membantu dia mengerti dan menyerahkan dia kepada Tuhan.

Maaf terpotong, baca sambungannya... silakan klik ini.

Thursday, April 24, 2008

7 Pilar Jemaat yang Dewasa

Segera Beredar!

Pdt. Gilbert Lumoindong, Gembala Jemaat GBI JaCC (GLOW), Jakarta
Rekan sekerja, sahabat dan juga mentor saya, Daniel Ong, adalah seorang Hamba Tuhan dan inspirator yang luar biasa, sehingga jika ia mengupas tentang KEDEWASAAN, pasti tergali dari “pergaulan” kesehariannya dengan Tuhan, jemaat, serta kehidupan itu sendiri. Seperti biasa, prinsip dalam buku ini sangat praktis dan mudah diikuti, namun jika mempraktekkannya, DAMPAK yang DAHSYAT akan menyertai pelayanan kita. Selamat menjadi DEWASA dan memiliki kehidupan yang BERDAMPAK.

Pdt. Timotius Arifin, Gembala Senior GBI Denpasar (ROCK), Bali
Saya mengenal Pdt. Daniel Ong yang berhasil membangun komunitas anak-anak muda yang berkemenangan dan menjadikan mereka putra-putra di kota Perth, Western Australia. Di dalam kitab Kejadian, di Taman Eden, Sang Bapa membangun hubungan dengan putra (Adam) dan putri-Nya (Hawa) dan menginginkan mereka membangun generasi selanjutnya. Demikian juga ketika Sang Putra datang ke bumi, Dia memulihkan keluarga rohani ini. Di dalam Kerajaan Allah, hubungan antara Raja dan putra-putri-Nya menjadi maha penting. Karena itu, buku ini memberikan pengertian yang praktis tentang rencana Allah tersebut. Tuhan dan Raja kita Yang Mulia, Tuhan Yesus Kristus memberkati semua. Shalom!

Dr. Dasaad Mulijono, Internist & Interventional Cardiologist
Di akhir zaman ini, banyak orang datang ke gereja untuk mencari mukjizat, terutama kesembuhan dari penyakit yang sudah tak dapat disembuhkan oleh dokter, ataupun pemulihan dari cacat akibat penyakit/kecelakaan, pemulihan dari keluarga yang berantakan, usaha yang bangkrut, keterikatan obat-obatan/narkoba, mencari jodoh, lepas dari ikatan kuasa kegelapan, dan sebagainya.
Memang Tuhan kita yang penuh kasih, Yesus Kristus, akan mengabulkan permintaan-permintaan di atas. Namun tujuan gereja yang sebenarnya bukanlah itu semata-mata. Gereja adalah tempat di mana kebenaran-Nya diajarkan dengan tujuan akhir menciptakan umat untuk menjadi seperti Yesus. Bukan untuk mendapatkan kuasa seperti Yesus, tetapi untuk mempunyai hati dan karakter seperti Dia.
Masalah terbesar mengapa misi dam visi gereja sering tak terwujud adalah dikarenakan sikap umat yang masih suam-suam kuku; hati, pikiran, dan tindakan setiap orang dikendalikan oleh dirinya sendiri. Walaupun gereja dipimpin oleh Tuhan Yesus sekalipun, tetapi kalau umat tetap kurang beriman, umat mendua hati, atau tak taat pada firman-Nya, maka semua visi dan misi gereja akan percuma. Karena itu, kita perlu bersekutu erat dengan Tuhan, membaca/menghayati dan menerapkan firman-Nya, dan membiarkan Roh Kudus bekerja leluasa dalam diri dan hidup kita.
Saya menyambut baik buku dari saudaraku terkasih, Daniel Ong, yang mempunyai visi dan misi yang sama. Saya yakin gereja AOC, Alpha Omega Community, dapat mewujudkan keinginan Tuhan kita yang sangat kita cintai, Yesus Kristus, agar kita semua menjadi umat yang sulung di akhir zaman ini.

Maaf terpotong, baca sambungannya... silakan klik ini.

Monday, April 21, 2008

Bekerja Sesuai Panggilan Anda


Sudahkah Anda bekerja sesuai panggilan Anda?
Menurut Cary Cooper, seorang profesor di University of Manchester, ketidakpuasan terhadap pekerjaan merupakan hal yang sangat buruk bagi kesehatan.
Karena itu, ayo, temukanlah panggilan Anda dalam kehidupan nyata!

Maaf terpotong, baca sambungannya... silakan klik ini.

Friday, December 14, 2007

Komentar-Komentar Menjelang Terbitnya Buku Baru Saya

Oleh Sansulung Johannes El Darsum

Beberapa waktu yang lalu, saya diminta untuk mengulas buku & video yang fenomenal dan best seller "The Secret". Setelah membaca berbagai media dan forum yang membahas hal ini, saya pun tertantang untuk meresponinya.

Karena itu, sebuah buku segera saya susun untuk:
- Menyingkap hal yang krusial dalam The Secret
- Menyikapi beberapa aspek inti dalam The Secret secara proporsional
- Melengkapi kekurangan The Secret yang dipersoalkan oleh berbagai pihak, seperti yang mengemuka di KOMPAS, PEMBELAJAR.COM, ataupun CHARISMA Indonesia.

Dengan demikian, buku ini sekaligus menjadi semacam pedoman aman bagi Anda atau rekan Anda yang ingin menerapkan Law of Attraction, yang menurut beberapa kalangan banyak manfaatnya, namun ada ranjau-ranjau yang perlu kita waspadai.

Ang Tek Khun sebagai pimpinan Gradien Mediatama pun menanggapi kerangka pikir yang saya ajukan dan menerbitkannya dalam waktu dekat. Pak Khun bilang, pemaparan yang memadai dibutuhkan, bukan sekadar wacana setuju atau tidak setuju. Dengan diterbitkan oleh kelompok penerbit umum, kami mengharapkan buku ini bukan hanya menjadi bermanfaat bagi orang Kristen tetapi juga jadi berkat buat yang non-Kristen.

Akhirnya, pada awal Desember terbitlah buku baru saya ini dengan judul "The Secret & Purpose Driven Life: Menggapai Manusia Baru, Pikiran Baru, Hidup Baru". Buku ini juga disertai "Panduan Mengenali Impian Anda Seutuhnya Berdasarkan Quantum Ora-et-labora". Silakan dapatkan di Gramedia, Gunung Agung, dan toko-toko buku Kristen.

Di bawah ini adalah beberapa komentar menarik yang muncul menjelang terbitnya buku ini. Silakan disimak.

Re: [terangdunia] The Secret vs Purpose Driven Christian - Sebuah Pengalaman

jelucas@cbn
wrote:

Dear Bro Sansulung Johannes El Darsum,
Saya sangat senang dengan ulasan anda tentang ‘the secret’, akhirnya ada juga dari ‘kalangan sendiri’ yang bersuara ttg hal ini secara akademis. Bro, beberapa bulan ini saya agak gusar dengan fenomena ‘thesecret’, karena banyak orang merasa telah menjadi ‘beda’ setelah membaca ‘the secret’.

Saya gusar karena hal ini akan membuat manusia menjadi tuhan dan tidak akan lagi memerlukan Tuhan. Hal ini bagus kalo yang dipikirkannya baik secara moril dan tidak melanggar hukum, tapi kalo yang di-ingin-kannya ternyata ‘baik’ bagi dirinya sendiri, gimana?

Saya nonton dvd-nya, dan ini yang membuat saya tambah yakin bahwa the secret tidak sesuai dengan firman Tuhan adalah:
pada saat ada homo yang bisa menyelesaikan masalah dikucilkannya dia dari lingkungannya dengan meratifikasi law of attraction. Memang dia jadi aman dan bebas dari masalahnya tapi sayangnya dia tetap jadi homo. Dan malah mungkin bisa tambah homo, karena dia bisa mewujudkan semua yang enak bagi dia sendiri.

Kalo gitu betapa mengerikannya buku itu. Bayangkan kalo ada pecandu narkoba yang bisa mewujudkan dirinya tetap sehat dan gak mati-mati walaupun masih memakai narkoba dengan law ofattraction.
Sangat mengerikan . . .

Ita Siregar <ita@feminagroup> wrote:

kreatif sekali, bung darsum dan pak khun. kalo istilah saudara kita, mohon doa restu gitu ya. semoga lancar dan berhasil.
pertanyaan: apa dasar atau apa yang menjadi landasan penting untuk menyingkap hal2 krusial dalam the secret sekaligus melengkapi kekurangannya?

sekedar ide saja. seharusnya orang percaya lebih banyak membaca buku yang dipercayanya, alkitab misalnya kalo dia percaya, sehingga secara kreatif, seandainya ia punya waktu, bisa menulis ulang cerita2 di sana dalam narasi berbeda bentuk atau tulisan kreatif lain, atau yang sensasional sehingga jadi bestseller.

rahasia yang dimaksud rhonda byrne dalam the secret kupikir adalah rahasia yang sudah lama ada di buku kalangan orang percaya. masalahnya, pertama kali membaca 'rahasia' tersebut adalah di buku the secret, lalu malah mencurigai asal muasal rahasia itu. bingung soal mana yang sesat dan menyesatkan.

mirip- mirip rush saat the da vinci code muncul. kasihan Tuhan.. heheh. . idenya banyak 'dicuri' manusia, lalu sekelompok manusia lain mencurigai kebenarannya. aduh.

martha pratana <martha@yahoo> wrote:

Dari sisi konten, The Secret memberi jawaban kepada persoalan-persoalan dunia saat ini. Kebutuhan akan kesehat, kedamaian, dan kesejahteraan lahir dan batin di zaman postmo ini semakin mendesak.

Pertanyaan kuno yang semakin tidak dapat ditemukan jawabannya: Sudahkah institusi gereja secara berkelompok dan orang Kristen secara individu menjadi jawaban atas berbagai kebutuhan manusia yang semakin kompleks ini? Catatan: Kebutuhan yang paling hakiki dari manusia di zaman postmo ini bukan sekadar pemenuhan materi dan fisik saja! Sigh :-(

Donny Adi Wiguna wrote:

Masalahnya, TS bukan science. Ini namanya pseudoscience, tidak bisa dianggap netral.

Data Buku:
Judul: "The Secret & Purpose Driven Life"
Ukuran: 13,5 x 17 cm2
Tebal: 136 hlm
Daftar Isi:
-Pengantar: Sebuah Pengalaman
1. Quantum Ora-et-Labora
2. The Law of Attraction & Positive Thinking
3. Manusia Baru & Rahasia Keunggulannya
4. Pikiran Baru & Transformasi Akal-Budi
5. Minta, Percaya, Terima
6. Hidup Baru & Penuh Makna
7. The Law of Abraham & Abundant Blessing
8. Gratitude & Positive Attitude
-Penutup: Kaidah Emas Versi Positif Hanya Ada di Alkitab
-Lampiran: Panduan Mengenali Impian Anda Seutuhnya Berdasarkan Quantum Ora-et-labora

Penulis adalah seorang literature minister, yang aktif dalam komunitas penulis & jurnalis Krisiani (Penjunan) dan lama bekerja fulltime di sebuah gereja di Jakarta. Sekarang melayani di Abbalove Oikos Community.

Maaf terpotong, baca sambungannya... silakan klik ini.

Thursday, October 25, 2007

The Secret vs Purpose Driven Christian

Oleh Sansulung John Sum

30 Agustus 2007, hari terakhir saya bersama tim kantor kepresidenan bertugas di Gorontalo, Sulawesi. Penerbangan pulang ke Bandara Soekano-Hatta mulus-mulus saja. Hanya ada sedikit turbulansi lazim tatkala akan transit di Bandara Hasanuddin, Makassar.

Dari Soekarno-Hatta, saya mampir di Jakarta untuk mengambil mobil yang saya titipkan pada adik saya. Setelah beristirahat dan makan malam, saya mengendarai mobil itu untuk pulang ke rumah. Tidak ada masalah apa-apa ketika menempuh rute Grogol, Cawang, Cibubur, Cileungsi, dan Jonggol.

Kecelakaan justru terjadi tatkala saya baru saja melewati pintu gerbang komplek perumahan tempat tinggal saya. Sekonyong-konyong sebuah sepeda motor yang dipacu dengan kecepatan lumayan kencang muncul di depan mobil saya. Segera saya rem. Tak ayal lagi, tabrakan tetap tak terelakkan.

Ajaran The Secret akan menilai saya telah berpikiran negatif sepanjang hari itu. Mungkin saya yang memang mengidap fobia ketinggian, telah membayangkan akan mengalami kecelakaan. Pikiran dan visualisasi itu, sesuai the law of attraction, telah membangkitkan energi yang menarik semesta yang mewujudkan terjadinya kecelakaan itu.

Benarkah asumsi itu? Salahkah asumsi itu?

Hari-hari selanjutnya pada bulan September, saya jalani seperti biasa. Saya pun melanjutkan tugas di Bina Graha untuk membantu Staf Khusus Presiden menerbitkan Tabloid Sambung Hati 9949. Setiap hari saya bolak-balik Jonggol-Jakarta selama berkantor di lingkungan Istana Kepresidenan dan tidak terjadi hal buruk apa pun.

Dua minggu berlalu. 15 September dinihari, kembali menjadi saat yang naas bagi saya. Lagi-lagi terjadi dalam perjalanan pulang dan tidak lama lagi akan tiba di komplek perumahan. Malang tak dapat ditolak, tiba-tiba sebuah mobil dari arah yang berlawanan, berpindah jalur dan dalam sekejap menghantam mobil saya. Anda bisa membayangkan apa yang terjadi pada saya dan mobil sedan saya yang ditabrak dari depan oleh sebuah mobil MPV.

Dinihari itu, jalanan sepi sekali dan tidak mungkin kami masing-masing berkecepatan hanya 30 km perjam. Namun, saya masih mengira bahwa pengendara mobil yang menabrak saya itu berpindah jalur karena akan menyalip mobil di depannya. Ternyata, setelah polisi datang, ia mengaku mengantuk dan baru sadar setelah tabrakan terjadi. Setelah pagi, ia dan keluarga datang ke rumah saya, mengaku salah, dan menyatakan akan menanggung semua biaya akibat kelalaiannya.

Walaupun saya juga mengalami kerugian immaterial dalam musibah ini, namun saya masih mengalami kebaikan dan keberuntungan. Pertama, kecelakaan itu meskipun membahayakan jiwa dan menyakiti tubuh, tetapi tidak sampai mengundang maut ataupun cacat tetap. Kedua, mobil saya itu memang sudah waktunya untuk direnovasi, tetapi saya biarkan saja karena kurangnya dana.

Dengan adanya biaya kompensasi akibat tabrakan itu (Rp 25 juta!) untuk memperbaiki mobil saya, ternyata ada juga hal baik yang bisa didatangkan dari hal buruk ini. Mengapa bisa begitu? Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Roma 8:28. Begitulah, selama 25 tahun bertobat menjadi Kristen, saya senantiasa merasakan penyertaan Allah dalam hidup saya.

Dari fakta yang sama itu dan ayat Alkitab yang sama, bisa memunculkan minimal 2 pendapat yang berbeda. Tergantung persepsi dan teologi yang dianut orang yang bersangkutan.
Seorang teman di gereja berkata bahwa Allah bermaksud memberikan dana yang saya butuhkan untuk merenovasi mobil saya, tetapi saya harus mengalami kesusahan dahulu melalui kecelakaan itu. Kesusahan itu menjadi ujian karakter saya. Tatkala saya lulus ujian, barulah Tuhan mencurahkan berkat-Nya itu kepada saya. Mungkin teman saya itu penganut “teologi kesusahan”.

Teman saya yang lain berkata bahwa tidak mungkin Tuhan merancangkan kecelakaan karena Ia tidak ingin umat-Nya mengalami kesusahan. Tuhan selalu mendatangkan kesentosaan, yaitu kesejahteraan dan kesehatan. Kecelakaan itu terjadi karena dosa saya sendiri. Tetapi, Tuhan yang baik telah mengubah kecelakaan itu menjadi keberuntungan bagi saya. Mungkin teman saya yang ini menganut “teologi kesentosaan”.

Nah, bagaimana ajaran The Secret menilai peristiwa ini? Mungkin tidak jauh dari asumsi terhadap insiden pertama di atas. Jika demikian, maka asumsi itu salah besar karena telah mengabaikan keberadaan Pribadi yang lebih besar daripada semesta ini. Bagi seorang purpose driven christian, segala sesuatu adalah dari Allah, oleh Allah, dan untuk Allah.

“Ini bukan mengenai Anda.” Paragraf singkat ini ditulis oleh Rick Warren untuk mengawali bab 1 buku The Purpose Driven Life. Di paragraf berikutnya, Rick menulis bahwa jika Anda ingin tahu mengapa Anda ditempatkan di planet ini, Anda harus memulainya dengan Allah, Anda dilahirkan oleh tujuan-Nya dan untuk tujuan-Nya. Bab pertama itu sendiri berjudul “Semuanya Diawali dengan Allah.”

Sebaliknya dengan ajaran The Secret: “Meminta apa yang Anda inginkan kepada Semesta adalah kesempatan untuk membuat jelas bagi diri sendiri mengenai apa yang Anda inginkan. Ketika permintaan itu menjadi jelas di benak Anda, Anda sudah memintanya. Semesta tidak membutuhkan waktu untuk mewujudkan apa yang Anda inginkan.”

Jelaslah bahwa The Secret mengajarkan bahwa segala sesuatu adalah dari Anda, oleh Anda, untuk Anda. Simaklah pernyataan berikut ini: “Semesta muncul dari pikiran. Kita mencipta bukan saja tujuan hidup kita, tetapi juga Semesta.”

Selanjutnya, mungkin Anda bertanya, “Apakah semua ajaran The Secret itu bertentangan dengan teologi Kristen? Bukankah The Secret juga mendukung dan melandaskan ajarannya pada Alkitab? Benarkah guru-guru The Secret terhisab dalam New Age Movement?”
Nah, saya ingin mengajak rekan-rekan berdiskusi menyikapi ajaran The Secret secara proporsional. Mengapa harus proporsional? Mengapa tidak kita labrak habis saja komplotan New Age Movement itu? Saya punya pengalaman menarik mengenai penilaian terhadap guru New Age Movement.

Tiga belas tahun yang lalu, seorang staf saya memuat resensi buku Chicken Soup for the Soul di warta gereja kami. Pada saat yang bersamaan, sebuah majalah Kristen dari Amerika Serikat melaporkan sosok Jack Canfield sebagai penganjur New Age Movement. Jack Canfield adalah penyusun Chicken Soup yang fenomenal itu. Sebagai manajer publikasi di gereja kami, sontak saya mendapat teguran keras dalam rapat kepemimpinan.

Lalu, kami menyampaikan ralat dan permohonan maaf di warta gereja edisi berikutnya. Namun, apa yang terjadi bertahun-tahun kemudian? Terbitlah buku Chicken Soup for the CHRISTIAN Soul, dan Jack Canfield masih sebagai penyusunnya. Buku itu dijual di toko buku gereja kami dan toko-toko buku Kristen lain. Isinya pun sering dikutip sebagai ilustrasi oleh banyak pengkhotbah Kristen! Nah, Jack Canfield yang sama adalah salah satu guru The Secret.

Nah, apa pendapat Anda?

Maaf terpotong, baca sambungannya... silakan klik ini.

Thursday, October 4, 2007

Umpan Ampuh untuk Mengail Ide

Oleh Purnawan Kristanto

Bagi penulis, “ide” adalah makhluk yang menggemaskan. Kedatangannya tak dapat dijadwal tepat waktu, mirip sekali dengan pelayanan kereta api di Indonesia. Ketika kita sangat membutuhkan, dia malah jual mahal, bersembunyi entah dimana. Ketika kita sedang tidak siap menulis, dia malah menari-nari menggoda otak kita.

Namun tidak usah khawatir. Anda sebenarnya dapat memasang umpan yang jitu untuk mengail ide pada saat membutuhkannya. Anda memiliki tiga jenis umpan, yaitu umpan ingatan, umpan pengamatan dan umpan riset.

Tulisan yang lebih lengkap dan tips praktisnya dapat dibaca di blog saya: http://purnawan-kristanto.blogspot.com/

1. Ingatan
Theodore Roosevelt berkata, “Do what you can, with what you have, where you are.” Kita dapat memulai mendapatkan bahan cerita dari apa yang sudah kita miliki saat ini, yaitu ingatan atau memori.

a. Kode Kata
Salah satu kunci untuk membuka peti ingatan kita adalah dengan kode kata. Cara yang dipakai adalah memilih kata kunci dari tema cerita atau premise yang sudah ditentukan. Kata ini dipakai sebagai pijakan awal yang akan menuntun kita untuk menemukan satu tema cerita yang spesifik. Setiap kata akan memicu Anda untuk memikirkan beberapa pengalaman. Ketika Anda mengingat kembali satu pengalaman, hal itu akan mendorong Anda untuk menghubungkannya dengan pengalaman lain yang mungkin terlupakan.

b. Curah Gagasan (Brainstorming)
Metode ini merupakan pengembangan dari metode kode kata. Berawal dari sebuah kata, kita menuliskan semua ide yang berkaitan dengan kata tersebut. Anda tidak perlu memusingkan urut-urutannya, alur logika atau ejaan tulisan.

Ketika semua ide sudah dituangkan, selanjutnya bacalah daftar ide Anda. Apakah Anda dapat menarik sebuah benang merah di antara daftar itu? Apakah ada ide yang perlu dibuang? Apakah ada kaitan diantara ide tersebut?.

c. Menulis Bebas
Metode ini hampir mirip dengan melamun. Caranya diawali dengan suatu kata tertentu, Anda menulis secara bebas. Tidak harus berkaitan dengan kata kunci tertentu (inilah perbedaan dengan curah gagasan). Tujuan utamanya adalah menulis kalimat sebanyak-banyaknya dalam waktu tertentu (5-10 menit) tanpa berhenti. Anda tidak perlu merisaukan arah tulisan tersebut dan ketepatan ejaan. Tulis saja dengan bebas.

Jika dirasa sudah cukup, maka baca kembali hasil tulisan bebas tersebut. Temukanlah ide-ide menarik yang dapat dikembangkan. Dari tulisan di atas, kita dapat mengembangkan cerita tentang menyambut kedatangan Yesus.

d. Pemetaan Pikiran
Pemetaan pikiran (mind mapping) adalah sistem perekaman pikiran supaya kita biasa menggunakan otak kiri maupun otak kanan dengan baik. Seluruh bagian otak digunakan untuk berpikir. Untuk melakukan ini, kita dapat menggunakan kata-kata kunci, lambang, dan warna. Mind mapping memungkinkan kita membangkitkan dan mengatur pikiran-pikiran pada waktu yang sama.

2. Pengamatan
Meskipun ingatan dapat menjadi sumber cerita yang kaya, tetapi Anda tidak semua hal masuk ke dalam ingatan Anda. Contohnya, kalau Anda dibesarkan di gunung, Anda mungkin tidak punya kenangan atas kehidupan di laut. Kalau Anda lahir dan besar di kota, Anda mungkin tidak memiliki kenangan atau pengalaman sebagai penggembala. Untuk itu, Anda dapat memakai teknik pengamatan atau observasi.

Di dalam kemiliteran sebelum menyerbu sebuah kota, sang perwira biasanya mengirimkan unit mata-mata untuk menyusup ke sasaran serbu. Tugas mereka adalah mengamati situasi di dalam kota dan mengumpulkan informasi intelijen sebanyak-banyaknya. Misalnya mencatat keadaan jalan, pembangkit listrik, instalasi militer, sarana komunikasi, jumlah penduduk dll.

Mirip dengan agen spionase, dalam metode ini Anda mendatangi sebuah tempat dan mencatat apa saja yang menonjol dan berkesan bagi Anda.


3. Riset
Ada pepatah mengatakan, “Learn from other people's mistakes, life isn't long enough to make them all yourself.” Meski kelihatannya bercanda, tapi ada kebenaran indah di dalam kebenaran ini. Kita harus belajar dari orang lain. Tidak hanya dari kesalahan mereka saja, tetapi juga dari keberhasilan mereka.
Dengan belajar dari orang lain, kita bisa menghemat waktu, biaya dan sumberdaya lainnya. Sebagai contoh, Anda mungkin belum pernah melihat padang rumput di Israel karena untuk pergi ke sana membutuhkan ongkos besar. Hal ini dapat disiasati dengan riset, yaitu meminta informasi dari orang lain.

Tulisan yang lebih lengkap dan tips praktisnya dapat dibaca di blog saya: http://purnawan-kristanto.blogspot.com/

Maaf terpotong, baca sambungannya... silakan klik ini.

Wednesday, October 3, 2007

The Law of Abraham (The Secret?)

Oleh Sansulung Johannes El Darsum

Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus. (Roma 14:17)

Anda ingin menjadi berkat bagi masyarakat, kota dan bangsa kita? Patutlah bagi Anda untuk menengok kecenderungan pergeseran paradigma di marketplace, karena Anda memiliki peluang terbesar untuk meresponi kebutuhan bangsa yang sangat penting dan mendesak saat ini, seperti yang mengemuka dalam berbagai seminar nasional. Inilah saatnya bagi Anda untuk berperan menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di marketplace.

Disinyalir, banyak orang mengalami suatu sindrom yang membuat mereka tidak cekatan lagi dan tidak mampu menyesuaikan diri dengan berbagai pola yang berubah sangat cepat. Orang yang memiliki gejala tersebut berbuat banyak kesalahan dalam menyusun urutan... pikiran yang rasional, dan sulit membawa diri dalam kehidupan sehari-hari. Sindrom diseksekutif ini telah lama terlihat dalam masyarakat Indonesia sehingga turut menyebabkan terjadinya kemelut besar bangsa kita.

Semestinya, kita mengintegrasikan head (pikiran/nalar) dan heart (nurani/moral). Keduanya mesti terorganisir dan terbangun sedemikian rupa agar terintegrasi dengan baik. Jika nurani adalah “singgasana” Tuhan Yang Berdaulat, maka pikiran adalah “meja kerja” tuan sang eksekutif. Visi dari pikiran harus mengakar secara mendalam pada misi dari nurani, agar sindrom diseksekutif tidak tetap bercokol dan berkembang lebih luas. Atau dalam bahasa George Barna, misi mendahului visi.

Sejatinya, hal itu adalah pekerjaan yang sudah menjadi “makanan sehari-hari” kita (bdgkan Yohanes 4:32-36). Segala pemikiran visi kita diselaraskan dalam misi melakukan kehendak Bapa. Lagipula, sebagai garam dan terang dunia, bisnis kita seyogyanya memiliki misi yang menggarami dan visi yang menerangi masyarakat, kota dan bangsa kita (bdgkan Markus 9:49-50). Kita ingin meneladani Abraham yang diberkati Allah untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.

Sebagai mantan nomaden yang beralih bertani, Abraham merupakan orang pertama, yang disebutkan dalam Alkitab, yang menganggap kapling tanah adalah properti milik pribadi yang dapat diperjualbelikan. Pembahasan yang dilakukan oleh Abraham dengan Efron tentang harga, penjelasan, serta pengumuman pergantian kepemilikan mengandung unsur-unsur dasar kontrak penjualan properti zaman sekarang (bdgkan Kejadian 23:10-20). Sejak kejatuhan komunisme, “hukum” Abraham berlaku di hampir semua negara.

Para pelaku bisnis tradisional sejak beberapa abad lalu memperlakukan sumber daya yang terbatas –hanya menghabiskan tanpa mengolah—seperti orang nomad dengan mentalitas kelangkaan. Itulah sebabnya kebanyakan orang berpandangan bahwa bisnis itu kotor. Dalam paradigma kelangkaan, “kue” ekonomi itu sangat terbatas, sehingga mesti berkompetisi untuk memperoleh bagian keuntungan dengan merugikan orang lain.

Sebaliknya, pelaku bisnis apostolik tidak percaya bahwa Tuhan menciptakan dunia dengan hukum ekonomi di mana keuntungan seseorang mesti merugikan orang lain. Namun, pebisnis apostolik percaya bahwa Tuhan memberikan seperangkat alat, berupa talenta, karunia, dan potensi untuk tidak sekadar menghabiskan sumber daya tersedia, namun lebih berfokus mengolahnya dalam mentalitas kelimpahan (bdgkan Yohanes 10:10).

Paradigma mentalitas kelimpahan percaya bahwa banyak kue keuntungan yang besarnya tak terbatas. Dan, jumlahnya tak terbatas sehingga selalu cukup untuk diperoleh semua orang yang populasi dan kebutuhannya terus meningkat. Mengapa bisa begitu? Karena produktivitas properti intelektual meningkat semakin cepat.

Konsep kepemilikan properti intelektual, sebagaimana hukum Abraham, merupakan landasan perekonomian teknologi modern kita. Kemajuan teknologi terkini telah mengolah dan “menciptakan” lebih banyak sumber daya dan berbagai bisnis kategori baru yang tak terbayangkan pada beberapa dasawarsa lalu.

Pemikiran yang mempertentangkan antara hati nurani dan bisnis telah usang ketinggalan zaman. Paul Zane Pilzer, penulis Unlimited Wealth yang juga pernah menjadi Wakil Presiden termuda Citibank, mengakui bahwa tangan Tuhan memastikan apa yang benar secara moral, kelak dapat membuat setiap orang menikmati kue ekonomi.

Dulu, boleh saja pelaku bisnis dan orang saleh dianggap saling berseberangan. Para pebisnis umumnya menganggap bisnisnya tidak akan maju kalau mengikuti nurani, moral, dan agama. Mereka menyadari cara berbisnis mereka yang tercela sehingga malu kalau berurusan dengan soal-soal agama. Sementara itu, kebanyakan orang saleh tidak mau berbisnis karena menganggap bisnis itu kotor dan akan mengotori nuraninya.

Dalam sebuah seminar yang diadakan oleh sebuah gereja di Kelapa Gading, Hermawan Kartajaya sempat menyinggung gerak perkembangan hubungan dunia bisnis dan kerohanian. Salah seorang pakar pemasaran terbaik di Asia ini membaginya dalam tiga era. Era pertama disebutnya era polarisasi, karena pelaku bisnis dan orang saleh (rohani) bersikap seperti di atas.
Era kedua adalah era balansi dengan pebisnis model Robinhood. Pada era itu, kebanyakan pebisnis sudah tidak malu-malu lagi dengan stigma kotornya bisnis dan terseret ke dalamnya. Lalu, mereka mengimbanginya dengan menjadi pahlawan seperti Robinhood, jika memberi sumbangan dari hasil bisnis yang curang atau korupsi, misalnya. Hasil korupsi pun mereka bagi-bagi, atau melakukan korupsi secara teamwork, sehingga muncullah istilah “korupsi berjamaah”, yang semakin sulit diberantas.

Nah, era saat ini adalah era integrasi antara bisnis dan kerohanian. Berbisnis bukan hanya harus putar otak, tetapi juga harus berlandaskan dan menyelami hati nurani. Dan, ternyata semakin orang menyadari hal ini, semakin terlihat bahwa bisnis tidak serta merta memiliki hakikat yang kotor. Bisnis juga spiritual. Bisnis bisa rohani. Bahkan, ada yang bilang bahwa bisnis itu sendiri adalah ibadah.

Semakin banyak bisnis, atau lebih tepatnya pelaku bisnis, yang berbalik kepada dimensi kerohanian sebagai fondasi dalam memandang keunggulan. Dua konsultan Gay Hendricks dan Kate Ludeman melakukan survei terhadap ratusan perusahaan sukses di Amerika Serikat. Hasilnya, memperlihatkan bahwa aspek etikal manajemen telah berkembang lebih jauh kepada semacam spiritualisasi manajemen.

Hampir semua pengusaha dan eksekutif perusahaan sukses yang diteliti oleh Gay dan Kate memiliki sifat-sifat yang biasanya dimiliki oleh orang-orang suci. Secara lugas, mereka seolah ingin mengatakan bahwa di era globalisasi ini, orang suci tidak hanya dapat ditemukan di rumah-rumah ibadah saja, tetapi Anda juga bisa menemukannya dalam diri pimpinan perusahaan-perusahaan besar atau organisasi-organisasi modern.

Sifat-sifat yang merupakan warisan peradaban luhur itu bergaung dalam ruang-ruang kehidupan di milenium ini. Untuk mendorong manusia kepada sasaran yang lebih pantas. Untuk meraih bentuk keunggulan yang berkelanjutan dalam jangka panjang, yang oleh Tom Morris disebut keunggulan kolaboratif. Menurut narasumber populer bidang bisnis di Amerika Serikat ini, untuk mencapai puncak keunggulan manusia, kita harus dijiwai oleh semangat kolaboratif.

Tom memaparkan tiga model keunggulan. Model yang paling dominan selama ini adalah keunggulan kompetitif. Model ini merupakan warisan pemikiran Barat. Untuk mendapatkan keunggulan dalam suatu kegiatan, seseorang harus mengalahkan orang lain yang menentangnya. Segala upaya dilakukan untuk memenangkan permainan zero-sum. Problem model keunggulan kompetitif terletak pada sifatnya yang individualistis dan memusuhi, yang merusak pranata masyarakat.

Model lainnya berakar dari kebijaksanaan Timur yang disebut keunggulan komparatif. Setiap orang mencapai keunggulan tanpa harus bersaing dengan orang lain, tetapi membandingkan keadaan dirinya sendiri dalam suatu rentang waktu. Dibanding kemarin, apakah hari ini dia sudah lebih dekat kepada sasarannya? Bagaimana caranya agar dia dapat semakin dekat kepada sasarannya? Problem model ini terletak pada kecenderungan eksklusif untuk memikirkan diri sendiri, tidak pernah menggali kepentingan yang lebih besar.

Model alternatif yang ditawarkan oleh Tom Morris adalah keunggulan kolaboratif, yang fokusnya meretas batas-batas individu. Model ini membuang kelemahan dari kedua model sebelumnya, namun tidak menuntut ditinggalkannya hal-hal baik dari cara berpikir kompetitif dan komparatif. Cara berpikir dan kerja kolaboratif yang baik bergantung pada panduan dari cara berpikir kompetitif dan komparatif, namun yang menjadi sumbu roda adalah kerja kolaboratif untuk mencapai hasil yang lebih baik.

Contoh paling gamblang adalah kontes Indonesian Idol, Akademi Fantasi Indosiar, dan yang semacamnya. Ketika memasuki babak final, model keunggulan kolaboratif terlihat amat jelas. Dua orang finalis tidak saling berkompetisi, karena kemenangan salah satunya tidak bergantung kepada kehebatan mereka untuk saling mengalahkan. Masing-masing finalis juga tidak hanya sibuk meningkatkan keunggulan komparatif masing-masing. Agar mendapatkan semakin banyak perhatian audiens, mereka justru berkolaborasi untuk menampilkan performa terbaik mereka, sebagai tim!

Dalam situasi begini, jarang sekali fans mereka yang mengalihkan dukungan. Mereka sudah mempunyai pendukung fanatik sendiri-sendiri. Yang terjadi malah fans mereka yang saling berkompetisi dan berulang-ulang mengirimkan sms dukungan. Sementara itu, dengan kolaborasi kedua finalis juga secara bersama-sama menyedot pendukung baru. Sehingga, total pendukung mereka semakin membengkak, yang pada akhirnya akan membeli album yang telah maupun akan mereka telurkan. Kekuatan sinergis, dalam bentuk apapun, seperti dalam model keunggulan kolaboratif ini, selalu dahsyat dampaknya. Betapa.

Hubungan kolaboratif dapat dikembangkan dengan berkomunitas, dalam interaksi sinergis. Motivasi kolaboratif didasarkan atas misi dan visi yang dipahami dan dikembangkan bersama. Kolaborasi perlu dipandu dengan pemahaman tentang kebutuhan untuk bertumbuh. Adalah tugas para pemimpinnya untuk membentuk pemahaman ini bagi komunitas yang terbentuk.

Dalam sebuah komunitas sejati yang berkelimpahan, setiap anggota mendorong partnernya untuk menjadi yang terbaik menurut kemampuannya. Sebuah komunitas kolaboratif tidak ingin saling mengecewakan dan masing-masing bersedia saling membantu dalam keadaan senang atau susah. Hasilnya adalah damai sejahtera dan sukacita berdasarkan kebenaran dalam Roh Kudus.

Diadaptasi dari buku “Awaking The Excellent Habit”(Sansulung John Sum, Gradien Books).

Maaf terpotong, baca sambungannya... silakan klik ini.